Selasa, 08 Mei 2012

Merajut Cinta Yang Hilang
                                                                                                   Oleh : taufik’s



  
            Gadis itu selalu memandangiku dan seperti ada yang ingin dilakukannya terhadapku. Setiap aku akan pergi dan pulang kerja, gadis itu tetap menyempatkan diri melihatku dari halaman depan rumah kosnya yang berdampingan dengan tempat tinggalku. Sebenarnya aku melihat hal itu biasa saja, karena hal itu sering kualami, yah maklum aku seorang pengusaha yang sukses dan sampai saat ini masih lajang. Umurku sekarang 37 tahun, dan laki-laki sebayaku dan sukses dalam usaha jarang memang yang masih lajang. Terus terang banyak gadis,  baik dari kalangan mitra bisnisku ataupun gadis- gadis lain seperti mahasiswa selalu mencoba mendekatiku, namun aku tidak punya keinginan sedikitpun pada mereka. Aku bukannya tidak tertarik pada wanita, tapi sampai saat ini aku memang belum punya keinginan untuk mendekati seorang gadispun, hal ini disebabkan karena aku masih trauma pada kejadian beberapa tahun silam.

            Waktu aku masih kelas 3 SMP dahulu aku sempat menjalin cinta kasih pada gadis sekelasku dan kebetulan jarak rumah kami tidak begitu jauh. Percintaan kami berjalan mulus hingga kami tamat SMP, namun bencana kurasakan setelah itu, karena tiba – tiba saja orang tua gadis itu ingin mengawinkannya dengan pilihannya. Yuni, begitu nama gadis itu mencoba melawan keinginan orang tuanya, dengan berbagai alasan, bahwa ia masih ingin sekolah dan ia tidak mencintai laki-laki pilihan orang tuanya itu. Sampai – sampai ia berusaha bunuh diri, namun gagal. Pada akhirnya paksaan orang tuanya berhasil memisahkan kami. Sekarang aku pula yang ditimpa bencana. Saat itu kurasakan dunia ini tidak punya arti apa-apa, dan kehidupan ini kurasakan hampa. Aku jatuh sakit hingga beberapa hari diopname di rumah sakit. Orang tuaku sangat kawatir dengan keadaanku hingga mereka memutuskan aku harus diungsikan ke kota lain, dan kudengar Yuni dibawa suaminya menempati rumah yang dibeli suaminya untuk mereka.  Sejak itu aku tinggal jauh dari kota asalku,  aku tinggal di rumah Kos dan melanjutkan studyku di kota ini hingga tamat dan menjadi pengusaha sukses.

            Kejadian dahulu itu membuatku tidak mau mengenal dekat wanita lain. Aku trauma, dan sampai saat inipun aku masih mencintai Yuni. Bagiku Yuni adalah gadis manis berkulit putih dengan hidung mancung pujaan setiap lelaki. Tak ada gadis lain yang mengimbangi kecantikannya. Bagiku dialah gadis yang paling manis bukan hanya rupa tapi juga manis kepribadiannya, walaupun gadis yang selalu menatapku setiap hari itu berkulit putih, manis
dan agak lama kuperhatikan, agak mirip dengan Yuni, tapi ah, Yuni tidak bisa dibanding-bandingkan dengan gadis lain. Titik.

            Hari berlalu, dan Minggu juga lewat, gadis Kos disebelah itu tetap kulihat menyempatkan diri melihatku jika berpapasan, dan pada kemudiannya aku jadi penasaran
juga dibuatnya. Aku jadi ingin tahu juga siapa gadis ini, hingga pada suatu kali pada hari Sabtu aku pulang cepat sekitar setengah empat sore, aku coba memberanikan diri menyapanya. Kala itu ia sedang duduk – duduk di teras rumah kosnya.
            “ Maaf “ sapaku. Mendengar itu gadis itu langsung berdiri dari duduknya. Baru kali inilah aku melihat gadis itu dari dekat. Wah hatiku kok tiba-tiga jadi berdegup kencang. Gadis ini sungguh manis, dan wajah itu mengingatkanku pada Yuni
            “ Cari siapa Bang ? “ tanyanya dengan gemetar. Suara itu begitu merdu dan ramah.

            Aku terkesima sebentar dan “ Nggak ada.” jawabku, “ Kita kan lama bertetangga tapi nggak pernah berkenalan. Boleh saya duduk ?”

            “ Boleh – boleh “ jawabnya dengan suara yang lembut “ silahkan duduk “ pintanya.

            Aku duduk di kursi dan ia juga duduk dikursi dekatku. Ada rasa canggung antara kami berdua. Setiap kulihat, dia selalu menunduk tak sanggup melihat pandanganku, dan begitu juga aku. Kami saling diam sejenak hingga aku memecah kesunyian :

            “ Kok sepi ?” tanyaku “ teman- teman kosnya kemana semua ? “

            “ Keluar “ jabawabnya ringkas.

            Kurasakan pada saat ini ada kecanggungan diantara kami, dan sebagai orang yang lebih tua aku coba mencairkan suasana, “ Maaf, nama saya Adrian, dan kamu ? “
            “ Siska” lembut ia mengucapkan namanya

            Siska, aku suka nama itu.

            “ Maaf ya Sis, mungkin saya mengganggu kesendirianmu. “ aku coba memancing pembicaraan

            “ Nggak – nggak. Saya senang kok ada yang menemani.”  spontan ia menjawab seperti ia ingin aku tidak beranjak dari situ akibat mengangganggu dirinya.
            “ Tidak kuliah  ? “ tanyaku bodoh, padahal aku tahu bahwa jam segini dia sudah pulang kuliah.
            “ Masuknya pagi, pulang pukul dua tadi. “ jawabnya
            “Semester berapa Sis ? “ tanyaku lagi.
            “ Satu, baru tamat SMA, Bang. “
            Aku mengangguk dan kami berbicara panjang lebar sambil kadang – kadang aku bergurau membuat ia tertawa.
            “ Ngomong-ngomong tinggal orang tuamu di mana ? “ sekali kutanya dia
            Siska menjawab dengan menyebutkan kota tempat tinggal orang tuanya, kebetulan juga di kota itu orang tuaku tinggal.“ Papa sudah meninggal sejak Sis masih bayi, masih umur tiga bulan. “
            “ Ibu Sis tidak kawin lagi ?
            Siska menggeleng “ Ibu nggak mau, Sis nggak tahu alasannya. Sis sudah berkali-kali bilang pada Ibu agar dia mau kawin lagi biar Sis punya Papa. Ibu hanya menggeleng seribu bahasa “
Aku kagum dengan Ibu siska, wanita tabah yang sanggup menahan hawa nafsunya demi membesarkan anaknya.
            Dari hari itu aku dan siska sering berhubungan. Jika aku cepat pulang, aku selalu menyinggahi tempat kosnya untuk berbincang-bincang. Tentang perasaanku padanya, memang mulai ada kurasakan debar-debar jantungku kala berdekatan dengannya. Dan cemburuku padanya mulai kurasakan ketika teman-teman lelakinya datang dan kadang kulihat juga mereka selalu mengganggunya. Ah, apakah aku jatuh cinta ? Aku tak bisa menjawabnya, yang pasti aku selalu ingin jumpa dengannya dan jika didekatnya ada perasaan tenang di dalam hatiku.
            “ Bang “ suatu malam ia membuka pembicaraan ketika kami berada di sebuah cafe.
            Aku meneguk minuman “ Ng …..” kataku. Kutatap matanya yang indah, dia menunduk, “ Ada apa Sis ? “
            “ Ngak apa-apa.” Siska menggeleng pelan dan menunduk
            “ Biacaralah....ayo …..” lembut ucapku sambil kuraih dagunya dan mengangkatnya.
            “ Ng... cuma mau nanya sedikit, itu pun kalau boleh “
            “ Jangan kekanak-kanakkan, Sis ? Apa yang mau diutarakan, katakan saja. “
            “ Sudah berapa lama kita berhubungan, Bang ? Sis kira sudah enam bulan ya ? “
            “ Benar, memangnya ?
            “ Sis mau nanya sebenarnya bagaimana perasaan Abang dengan Sis ? “
            Siska menatapku lembut, ah mata itu mengingatkan ku pada Yuni. Begitulah jika Yuni menatapku. Aku menarik nafas panjang dan pelan-pelan kuraih tangan Siska, kuremas lembut tangan mungil itu. Perasaan hangat melingkupi perasaanku. Hmm, Siska kau memang cantik, memang lembut, memang baik hati. Dan kaulah Sis, type gadis idamanku. Namun Sis, perasaan ini tak dapat kuteruskan, aku masih teringat pada Yuni, dan ia tak bisa
digantikan oleh siapapun. Aku sayang padamu, Sis. Aku memang mencintaimu, aku memang membutuhkanmu, tapi sabar ya Sis, mungkin waktunya belum cukup.
            “ Bang Adri....  “ Siska mengejutkanku, “ Bang Adri melamun ?”
            “ Nggak “ spontan aku menjawab. Aku terkejut. Kupandangi   gadis manis di depanku ini  dalam – dalam hingga ia tersipu malu.
            “ Sis...” kataku” Aku sayang padamu. Aku membutuhkanmu dalam banyak hal. Kaulah yang dapat melunakkan hatiku Sis...?”
            “ Makasih Bang  Adri, setelah ini perasaan Sis jadi tenang.” Siska meraih tanganku dan meletakkannya di pipinya kuat – kuat seperti ia tak akan melepaskannya.
            Hari- hari kujalani bersama Siska dengan penuh ceria dan canda. Siska memang type gadis ceria dan ramah. Aku hampir melupakan Yuni dengan kehadiran gadis manis ini.
Walaupun hubungan asmaraku dengan Siska berjalan dengan baik, namun sekalipun aku belum pernah menciumnya. Bukan karena aku tidak kepingin atau bernafsu, bukan. Aku lebih menjaga kualitas hubungan ketimbang hal-hal yang berbau nafsu hingga pada suatu kali Siska bertanya masalah itu. Ketika pada suatu malam kami duduk di taman menikmati keindahan bulan purnama.
            “ Bang... “ Siska memulai pembicaraan sambil merebahkan kepalanya ke bahuku “ Sis heran dari mulai kita hubungan, bang Adri kok nggak pernah mencoba mencium Sis ? “ dia menyembunyikan mukanya kebahuku, malu.
            Kuraba wajahnya dengan lembut dengan telapak tanganku dan kubisikkan padanya, “ Sis, Abang lebih menghargai hubungan batin antara kita, dan bukan hubungan fisik “
            Siska diam, dia masih menyembunyikan wajahnya di bahuku, seakan ia ingin terus begitu. Angin malam berhembus sepoi menyibakkan rambut panjang Siska, dan bulan di atas kami seakan tersenyum. Kutarik nafas dalam dan kuteguk minuman yang baru kupesan dari pedagang keliling. Aku dan Siska membiarkan dinginnya malam menjamah tubuh kami, menambah kemesraan. Sesaat kuraih tangan Siska dan keremas lembut, seperti lembutnya sinar bulan yang menerpa kami,
            “ Bang Adri …. Seminggu lagikan liburan semester. Rencananya Sis mau pulang melihat Ibu “ Siska mengangkat wajahnya dari bahuku.
            “ Bagus “
            “ Hmn, maksud Sis kalau Abang ada waktu Sis ingin Abang ikut mengantarkan Sis dan sekaligus mengenalkannya pada Ibu.”
            Aku diam sejenak, Siska benar-benar serius tentang hubungan kami sehingga ia mau mengajakku ke rumah orang tuanya. Aku ragu, tapi kupikir-pikir juga jika aku begini terus tidak baik untuk masa depanku. Aku memang harus memutuskan dan aku harus berani. Yuni adalah masa laluku, dan Siska kurasakan seperti penjelmaan Yuni. Kemiripan wajah serta tingkah lakunya sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menenangkan perasaanku. Setelah kupikir-pikir sejenak, maka ku putuskan mengikuti ajakan Siska, juga sekalian aku akan menjenguk orang tuaku yang sudah agak lama juga aku tidak ke sana.
            “ Sis, okelah, nanti abang ikut mengantarmu pulang. “
            Dengan bergandengan tangan kami pulang berjalan menuju mobil untuk segera pulang.
                                                                      

                                                                              --00—


            Tiket pesawat terbang sudah kupesan untuk dua orang, dan pada hari yang ditentukan, aku dan Siska terbang ke kota dimana ibunya tinggal yang kebetulan juga di kota itu juga orang tuaku tinggal. Kami banyak bercerita di dalam pesawat hingga akhirnya pesawat mendarat di kota tujuannya. Dengan mengendarai taxi kami langsung menuju ke rumah orang tuanya.
            Rumah Ibu Siska tidak termasuk rumah yang mewah dan juga bukan rumah sederhana. Rumah itu kelihatan dari luar dibuat dengan perencanaan yang matang dengan
konsep minimalis. Sungguh aku kagum dengan nilai seni Ibu Siska ini. Siska mengajakku masuk ke dalam setelah tukang kebunnya membukakan pintu.
            “ Masuk Bang Adri, jangan sungkan”
Aku mengangguk dan mengikuti Siska. Siska meraih tanganku dan menariknya. Di dalam ruang tamu ini kosong, tak kelihatan Ibu Siska.
            “ Maaf ya Bang, Ibu mungkin masih di dalam kamar. Biar Sis apanggil dahulu, karena memang Sis nggak bilang kalau pulang mengajak Abang singgah di sini.”
            “ Sis, Ibumu kerja dimana ? “ baru kali ini aku bertanya, karena aku tak menyangka bahwa Ibu Siska seorang janda bisa menata rumah seindah ini.
            “ Ibu Interior Designer di perusahaan Swasta.”
            “Pantas” gumanku
            “ Ditinggal sebentar ya Bang? “
            Siska masuk dengan memanggil Ibunya. Aku memperhatikan ruang tamu ini, ada beberapa lukisan pemandangan terpampang di dinding, dan tidak ada terpajang satupun foto keluarga Siska. Tak lama kudengar langkah kaki mendekat dan muncul di ruang itu. Ibu Siska sendirian. Aku menoleh, kutatap sebentar Ibu Siska, dan dia juga menatapku. Dalam. Kami saling tatap agak lama dan aku tidak asing dengan wajah itu, ya, wajah itu wajah yang tak pernah lepas dari pemikiranku. Tiba – tiba aku merasa dunia ini berputar kencang, dan sepertinya ada badai yang datang tiba-tiba menerpaku hingga aku merasa terpelanting. Ibu Siska masih terpaku berdiri ditempat semula dan tiba-tiba ia berguman, lirih suaranya, “ Adrian...........”
            “ Yuni …............” kata-kata itu lirih terdengar dari bibirku.Ya Allah, permainan apa ini, aku tak mengerti. Ibu Siska adalah Yuni, orang yang selama ini menghiasi relung hatiku. Yuni terlihat lemas dan sepertinya tak sanggup berdiri. Aku sigap bangkit dan menghampirinya dan memeluknya untuk menahan supaya ia jangan sampai jatuh. Kupapah dia duduk di kursi.
            “ Adrian  …. Benar Adrian kan ? ' tanyanya lemah dan ada air mengalir di matanya.
            Aku menganggguk pelan, “ Yun ….......” sapaku “ tidak salahkan ? “
            Yuni menangis, ditatapnya wajahku dalam-dalam seperti tak percaya bahwa kekasih anaknya yang duduk di depannya ini  adalah orang yang selama ini dirindukan, dimimpikan dan dikhayalkannya.
            “ Yun, maaf ya ….. aku dan Siska …..... “ aku coba mencairkan kebuntuan
            “ Kau nggak salah, Dri, dan jangan salahkan dirimu . Yang salah aku, andainya waktu itu tak terjadi…… .”
            “ Kau sudah cukup berusaha maksimal, Yun “ cepat aku memotong pembicaraannya.
            “ Tapi Dri....” Yuni merasa belum cukup mengutarakan perasaannya
            “ Sudah Yun,’timpalku, “ masa lalu tak usah diingat lagi, yang penting sekarang bagaimana kehidupan kita  kedepannya “
            “ Jadi, apa rencanamu dengan Siska… ? “ tanya Yuni dengan perasaan pasrah
            Aku menggeleng, “ Belum ada Yun, aku dan Siska belum ada rencana apa-apa, dan biar kau tahu Yun, dalam hatiku tak ada orang yang bisa menggantikanmu. “
            “ Dri, Siska banyak cerita tentangmu, dan kulihat terlalu banyak  harapannya darimu. Kalau kau bilang seperti itu, kau berarti menghianati Siska. Kau tahukan Dri, Siska itu anakku
satu-satunya. Dia bahagian hidupku yang tak bisa dipisahkan. Jika kau menghianatinya, itu artinya kau menghianatiku juga. “
            “ Tenang Yun, “ aku menarik nafas panjang “ aku takkan menghianati siap-siapa. Aku tahu perasaan Siska, dan aku tahu harapan-harapannya, tapi …....... aku tak bisa menghianati perasaanku. Jikapun ia kuterima sekarang aku sangsi dia menjadi orang kedua
dalam perasaanku. Aku sayang padanya hingga aku tak mau ia disakiti oleh siapapun termasuk diriku sendiri. Dia masih muda dan perjalanan hidupnya masih terlalu jauh. Jika kupaksakan menerimanya aku takut, Yun, aku takut nanti akan menyakiti hatinya.”
            “ Dia terlalu memujamu., Dri “
            “ Aku tahu itu, aku sadar. Yun …. sekali lagi kukatakan, kau tak bisa digantikan siapapun. Ketahuilah Yun, aku tahu Siska sebenarnya merindukan seorang sosok ayah yang tak pernah ia rasakan selama dia hidup. “
                        ' Dri, jangan sakiti hati anakku. “
Aku dan Yuni menghentikan pembicaraan ketika Siska muncul. Seperti biasa dia ceria.
            “ Maaf Bang Adri, agak lama Sis ya..... ng …... udah kenal Ibu kan ? Ini Bu Y...u...n...i..” Siska dengan manjanya coba mengenalkanku pada Ibunya sambil ia duduk disamping Yuni
dan merebahkan badannya ke sisi Ibunya, “ Bu ini Bang Adri yang sering Sis ceritakan dalam surat. Gimana Bu ? Bang Adri ini orangnya baiiiiiik sekali. “
            “ Jangan terlalu memuji, Sis “ kataku malu. “ Saya biasa-biasa saja kok.”
            Pembicaraan berlanjut, aku dan Yuni  berusaha menyembunyikan hubungan kami yang lama, dan kulihat Siska dengan keluguannya tidak menangkap keganjilan-keganjilan yang kuperlihatkan seperti aku tak kuasa memandang Yuni dalam-dalam, dan ia juga membalasnya untuk mengurangi rasa rindu yang begitu dalam. Oh Sis, maafkan aku, Ibumu inilah yang telah menorehkan cinta dihatiku hingga aku tak pernah menyisakan sedikitpun ruang hatiku untuk perempuan lain. Setengah jam berlalu aku pamitan pulang menemui orang tuaku yang tinggal dalam kota itu juga.
            Pertemuan dengan Yuni tadi membuat galau perasaanku. Aku sebenarnya tak mampu menghadapi parasaan ini, kupaksakan juga menekan perasaanku, tapi wajah mungil itu,
wajah Yuni yang tak termakan usia itu terus bermain dalam pandanganku. Aku tak tahan hingga Yuni ku telpon. Kami bicara mengutarakan isi hati kami, dan aku tak peduli dengan masa lalu Yuni. Aku tak akan mengawini wanita selain Yuni, segalanya adalah Yuni, Yuni, dan Yuni. Tapi ….. bagaimana Siska ? Gadis ayu baru tamat SMA itu ? Sis ….. andainya ibumu bukan Yuni. Andainya Sis …. Yuni tak kujumpa lagi, cuma kau gadis yang bisa hampir menyisihkan perasaanku pada Yuni. Tapi itulah takdir, ternyata Tuhan mungkin menginginkanku kembali ke Yuni, hingga aku memutuskan dan coba bicara baik-baik ke Siska pada suatu kesempatan ketika ia kuajak makan malam di sebuah Cafe.
            “ Maaf ya Bang Adri, Abang kok nggak telpon – telpon Sis dari kemarin ?”  Tanya Siska, “ Nggak rindu sama Sis ya ….. ? “ Siska memulai pembicaraan dengan keluguannya. Nampak ia tak punya kecurigaan apa – apa kepadaku padahal seharian kemarin aku tak sekalipun meneleponnya, dan ini sangat bertentangan dengan waktu-waktu sebelumnya yang tak seharipun kulewatkan tanpa meneleponnya.
            “ Jangan perasaan dulu Sis, pastilah rindu. “ jawabku enteng
            “ Jadi kok nggak nelpon ? “ tanyanya lagi dengan nada manja, “Sibuk nii yeee”
            “ Udahlah Sis. “ aku menarik nafas panjang, diam sejenak dan dengan sangat berat aku mencoba berbicara “ Sis boleh abang berterus terang ? “
            “ Mau melamar Sis ya ?” spontan ia memotong kata-kataku, “ Bicara sama Ibu “ ketus katanya
            Ah, aku terkesima dibuat pernyataannya. Ya Tuhan,  sudah sejauh itu Siska berfikiran. Aku jadi serba salah, kupandangi Siska dalam-dalam. Ada rasa kasihanku padanya, ada rasa berdosaku padanya, ada rasa galau dihatiku. Aku serba salah dibuatnya, namun aku harus
berfikir jernih, bagaimanapun keputusan harus cepat diambil daripada berlarut-larut yang efeknya bakal lebih parah lagi. Aku menekan perasaanku dan dengan lembut aku mulai       mengutarakan  maksudku sambil meremas jemarinya.
            “ Sis, sebelumnya Abang minta maaf padamu. Abang minta ……. hubungan kita sampai di sini saja ya ? “
            Siska melonjak. Terkejut. Badannya bergetar. Ditatapnya aku seakan tak percaya. Hilang keluguannya, hilang keceriaannya. Perlahan kulihat air mulai menggenang di kelopak matanya yang mungil, tak lama butiran air bening jatuh ke pipinya yang putih. Aku tak tahan dengan pemandangan ini,  mataku mulai perih, kurasakan genangan air mulai dengan perlahan turun ke pipiku tapi langsung ku usap.
            “ Benarkah Bang ….....?. Atau aku yang salah dengar “ lirih suara Siska
            Aku coba tegar, dan mengangguk, “ Sis nggak salah dengar. Itu benar. “ kataku tegas.
            “ Tapi, tapi kenapa ? “ ia terbata “ Ada orang lain, Bang ? “ Siska melepaskan tangannya dari genggamanku. Ia terisak
            “ Bukan masalah ada orang lain, Sis, ini masalah Abang pribadi. Sis kan tahu orang seumur Abang ini sampai sekarang belum menikah ? Itu karena ada hati orang lain di hati ini.”
            Perlahan dengan detail kuceritakan pengalaman pahit diriku dari bertahun – tahun yang lalu. Kulihat Siska mendengar dengan tenang. Tak terasa juga air mataku juga jatuh satu-satu. Aku coba memberi pengertian Siska agar dia bisa memahami perasaanku.
Memang aku juga mengerti tidak segampang itu meluluhkan perasaannya, tapi apapun itu harus kuputuskan sekarang, dan mau tak mau Siska harus memakluminya. Nampak dia mulai tegar, dan ketika kuremas jemarinya dia membalas seperti memberikan kekuatan padaku.
            “ Itulah Sis perjalanan hidup Abang sebenarnya. Percayalah Sis, Abang sayang padamu karena itulah Abang tidak mau menyakitimu. Jikapun Sis tidak merelakannya itu harus segera kita putuskan. Kau masih muda, Sis, perjalananmu masih terlalu jauh,  dan nanti Abang yakin ada laki-laki yang baik untukmu.”
            Air mata masih belum berhenti keluar dari mata Siska, dan kuambil sapu tanganku dan menghapus genangan airmata di wajahnya.
            “ Bang ….... maaf ya, jika boleh Sis tahu, siapa wanita yang beruntung itu ? “ Siska menyelidiki.
            “ Wanita itu tidak jauh dari kehidupan kita “ kataku
            “ Kita ? “ Siska heran,  
            “ Hmn....... Sis, Wanita yang Abang ceritakan tadi adalah Yuni. Ibumu. “
            Siska terhenyak, dan sepertinya ia tak menduga sama sekali bahwa laki-laki di sampingnya ini adalah laki-laki yang selalu dirindui ibunya, laki-laki yang membuat ibunya tak mau kawin lagi setelah sepeninggal ayahnya. Siska tak habis mengerti apa yang harus ia lakukan. Ia terlalu mencintaiku dan terlalu menaruh harapan masa depannya padaku.
 Orang yang paling dicintainya di dunia ini cuma dua orang yakni Ibunya dan Aku. Siska kulihat menjadi serba salah. Ia menghapus sisa air matanya, dan ia menjatuhkan kepalanya
ke bahuku, dan lirih suaranya, “ Bang,......... jika Abang masih mencintai ibu, Sis cuma minta Sis nggak mau ibu patah hati lagi.”
            “ Ibumu bahagian hidupku Sis, tak usah kawatir Abang pasti menjaga dirinya dan juga perasaannya. “
            “ Sis lega, Bang. Tapi terus terang, Sis belum bisa merubah hati ini. “
            “ Sabarlah Sis, jika ada harapan, akan selalu ada jalan.”
Perbincanganku dengan siska tak terasa lamanya hingga akhirnya kami sadar hari sudah pukul dua belas malam. Kami beranjak dari tempat itu dan pulang.
            Kudengar suara orang ribut-ribut di luar kamar ini yang membuat aku tersentak bangun, rupanya orang tuaku sudah bangun. Kulihat jam duduk desamping tempat tidurku, sudah pukul lima pagi. Cepat aku bangun dan melakukan kewajibanku sebagai orang yang beragama.
            Matahari menunjukkan wajahnya, pagi beranjak terang, hari baru mulai. Kedengar ring telepon genggamku berbunyi, dan kuraih. Dari Siska.
            “ Maaf Bang Adri, mungkin ini mengganggu waktu istrahatnya “ kudengar suara Siska, tak lagi lugu, dan kudengar seperti bukan Siska yang dulu, “ Nanti siang Sis harus pergi, dan Sis harap Bang Adri maklum. Tadi malam Sis banyak cerita sama ibu hingga pagi, dan Sis harap Bang Adri hari ini mau datang ke rumah menjumpai Ibu. Ketahuilah Bang, pesaan Ibu terhadap bang Adri sama seperti perasaan bang Adri, untuk itulah Sis mohon kepada Abang agar menjaga Ibu dan tidak menyakiti hati Ibu. Sispun berdoa agar perasaan Sis terhadap Bang Adri berubah seiring waktu yang berjalan. Selamat tinggal ya Bang……..” Sis langsung mematikan HPnya dan tak menunggu jawabanku lagi.
            Aku bersandar ke didinding menerawang jauh ke depan. Hari ini sudah putus semua. Aku lega. Sis berjiwa besar.
            Panjang lebar aku berbicara dengan Yuni, dan kami telah mengangbil keputusan untuk bersama. Bulan depan aku akan melamar Yuni untuk menjadi istriku, dan Yuni setuju untuk itu, dan Siska memang tidak memutuskan untuk hadir pada hari pernikahanku dengan ibunya, aku maklum dan semoga waktu merubah semuanya, toh Siska akan menjadi anakku kelak. Terima kasih Tuhan, Kau memberikan jalan keluar bagi persoalan pribadiku.


                                                                                                                                                (mei ’11)



==============================000====================================
           

Sabtu, 05 Mei 2012

puisi tengah malam

saat orang-orang tlah tidur
mataku tak mengantuk
tak mau lelap seperti matahari
kerna ada kerinduan yang lekat dihati

malam ini kurenung
betapa terlarang cinta ini
namun kutak tahu kenapa
tuhan menjepit hati denagan cinta
dan ketakpedulian terahadap apa-apa
                                                 wini

cinta sejati tak melihat masa lalu, latar belakang dan profesi. Dia melekat di hati.
http://blogger-templates.blogspot.com/