Merajut Cinta
Yang Hilang
Oleh : taufik’s
Gadis itu selalu memandangiku dan seperti ada yang ingin
dilakukannya terhadapku. Setiap aku akan pergi dan pulang kerja, gadis itu
tetap menyempatkan diri melihatku dari halaman depan rumah kosnya yang
berdampingan dengan tempat tinggalku. Sebenarnya aku melihat hal itu biasa
saja, karena hal itu sering kualami, yah maklum aku seorang pengusaha yang
sukses dan sampai saat ini masih lajang. Umurku sekarang 37 tahun, dan
laki-laki sebayaku dan sukses dalam usaha jarang memang yang masih lajang.
Terus terang banyak gadis, baik dari
kalangan mitra bisnisku ataupun gadis- gadis lain seperti mahasiswa selalu
mencoba mendekatiku, namun aku tidak punya keinginan sedikitpun pada mereka.
Aku bukannya tidak tertarik pada wanita, tapi sampai saat ini aku memang belum
punya keinginan untuk mendekati seorang gadispun, hal ini disebabkan karena aku
masih trauma pada kejadian beberapa tahun silam.
Waktu aku masih kelas 3 SMP dahulu aku sempat menjalin
cinta kasih pada gadis sekelasku dan kebetulan jarak rumah kami tidak begitu
jauh. Percintaan kami berjalan mulus hingga kami tamat SMP, namun bencana
kurasakan setelah itu, karena tiba – tiba saja orang tua gadis itu ingin
mengawinkannya dengan pilihannya. Yuni, begitu nama gadis itu mencoba melawan
keinginan orang tuanya, dengan berbagai alasan, bahwa ia masih ingin sekolah
dan ia tidak mencintai laki-laki pilihan orang tuanya itu. Sampai – sampai ia
berusaha bunuh diri, namun gagal. Pada akhirnya paksaan orang tuanya berhasil
memisahkan kami. Sekarang aku pula yang ditimpa bencana. Saat itu kurasakan
dunia ini tidak punya arti apa-apa, dan kehidupan ini kurasakan hampa. Aku
jatuh sakit hingga beberapa hari diopname di rumah sakit. Orang tuaku sangat
kawatir dengan keadaanku hingga mereka memutuskan aku harus diungsikan ke kota
lain, dan kudengar Yuni dibawa suaminya menempati rumah yang dibeli suaminya
untuk mereka. Sejak itu aku tinggal jauh
dari kota asalku, aku tinggal di rumah
Kos dan melanjutkan studyku di kota ini hingga tamat dan menjadi pengusaha
sukses.
Kejadian dahulu itu membuatku tidak mau mengenal dekat
wanita lain. Aku trauma, dan sampai saat inipun aku masih mencintai Yuni.
Bagiku Yuni adalah gadis manis berkulit putih dengan hidung mancung pujaan setiap
lelaki. Tak ada gadis lain yang mengimbangi kecantikannya. Bagiku dialah gadis
yang paling manis bukan hanya rupa tapi juga manis kepribadiannya, walaupun
gadis yang selalu menatapku setiap hari itu berkulit putih, manis
dan agak lama kuperhatikan,
agak mirip dengan Yuni, tapi ah, Yuni tidak bisa dibanding-bandingkan dengan
gadis lain. Titik.
Hari berlalu, dan Minggu juga lewat, gadis Kos disebelah
itu tetap kulihat menyempatkan diri melihatku jika berpapasan, dan pada
kemudiannya aku jadi penasaran
juga dibuatnya. Aku jadi
ingin tahu juga siapa gadis ini, hingga pada suatu kali pada hari Sabtu aku
pulang cepat sekitar setengah empat sore, aku coba memberanikan diri
menyapanya. Kala itu ia sedang duduk – duduk di teras rumah kosnya.
“ Maaf “ sapaku. Mendengar itu gadis itu langsung berdiri
dari duduknya. Baru kali inilah aku melihat gadis itu dari dekat. Wah hatiku
kok tiba-tiga jadi berdegup kencang. Gadis ini sungguh manis, dan wajah itu
mengingatkanku pada Yuni
“
Cari siapa Bang ? “ tanyanya dengan gemetar. Suara itu begitu merdu dan ramah.
Aku terkesima sebentar dan “ Nggak ada.” jawabku, “ Kita
kan lama bertetangga tapi nggak pernah berkenalan. Boleh saya duduk ?”
“
Boleh – boleh “ jawabnya dengan suara yang lembut “ silahkan duduk “ pintanya.
Aku duduk di kursi dan ia juga duduk dikursi dekatku. Ada
rasa canggung antara kami berdua. Setiap kulihat, dia selalu menunduk tak
sanggup melihat pandanganku, dan begitu juga aku. Kami saling diam sejenak
hingga aku memecah kesunyian :
“
Kok sepi ?” tanyaku “ teman- teman kosnya kemana semua ? “
“
Keluar “ jabawabnya ringkas.
Kurasakan pada saat ini ada kecanggungan diantara kami,
dan sebagai orang yang lebih tua aku coba mencairkan suasana, “ Maaf, nama saya
Adrian, dan kamu ? “
“
Siska” lembut ia mengucapkan namanya
Siska,
aku suka nama itu.
“
Maaf ya Sis, mungkin saya mengganggu kesendirianmu. “ aku coba memancing
pembicaraan
“ Nggak – nggak. Saya senang kok ada yang menemani.” spontan ia menjawab seperti ia ingin aku
tidak beranjak dari situ akibat mengangganggu dirinya.
“ Tidak kuliah ? “
tanyaku bodoh, padahal aku tahu bahwa jam segini dia sudah pulang kuliah.
“ Masuknya pagi, pulang pukul dua tadi. “ jawabnya
“Semester berapa Sis ? “ tanyaku lagi.
“ Satu, baru tamat SMA, Bang. “
Aku mengangguk dan kami berbicara panjang lebar sambil
kadang – kadang aku bergurau membuat ia tertawa.
“ Ngomong-ngomong tinggal orang tuamu di mana ? “ sekali
kutanya dia
Siska menjawab dengan menyebutkan kota tempat tinggal
orang tuanya, kebetulan juga di kota itu orang tuaku tinggal.“ Papa sudah
meninggal sejak Sis masih bayi, masih umur tiga bulan. “
“ Ibu Sis tidak kawin lagi ?
Siska menggeleng “ Ibu nggak mau, Sis nggak tahu
alasannya. Sis sudah berkali-kali bilang pada Ibu agar dia mau kawin lagi biar
Sis punya Papa. Ibu hanya menggeleng seribu bahasa “
Aku kagum
dengan Ibu siska, wanita tabah yang sanggup menahan hawa nafsunya demi
membesarkan anaknya.
Dari hari itu aku dan siska sering berhubungan. Jika aku
cepat pulang, aku selalu menyinggahi tempat kosnya untuk berbincang-bincang.
Tentang perasaanku padanya, memang mulai ada kurasakan debar-debar jantungku
kala berdekatan dengannya. Dan cemburuku padanya mulai kurasakan ketika
teman-teman lelakinya datang dan kadang kulihat juga mereka selalu
mengganggunya. Ah, apakah aku jatuh cinta ? Aku tak bisa menjawabnya, yang
pasti aku selalu ingin jumpa dengannya dan jika didekatnya ada perasaan tenang
di dalam hatiku.
“ Bang “ suatu malam ia membuka pembicaraan ketika kami
berada di sebuah cafe.
Aku meneguk minuman “ Ng …..” kataku. Kutatap matanya
yang indah, dia menunduk, “ Ada apa Sis ? “
“ Ngak apa-apa.” Siska menggeleng pelan dan menunduk
“ Biacaralah....ayo …..” lembut ucapku sambil kuraih
dagunya dan mengangkatnya.
“ Ng... cuma mau nanya sedikit, itu pun kalau boleh “
“ Jangan kekanak-kanakkan, Sis ? Apa yang mau diutarakan,
katakan saja. “
“ Sudah berapa lama kita berhubungan, Bang ? Sis kira
sudah enam bulan ya ? “
“ Benar, memangnya ?
“ Sis mau nanya sebenarnya bagaimana perasaan Abang
dengan Sis ? “
Siska menatapku lembut, ah mata itu mengingatkan ku pada
Yuni. Begitulah jika Yuni menatapku. Aku menarik nafas panjang dan pelan-pelan
kuraih tangan Siska, kuremas lembut tangan mungil itu. Perasaan hangat
melingkupi perasaanku. Hmm, Siska kau memang cantik, memang lembut, memang baik
hati. Dan kaulah Sis, type gadis idamanku. Namun Sis, perasaan ini tak dapat
kuteruskan, aku masih teringat pada Yuni, dan ia tak bisa
digantikan oleh siapapun.
Aku sayang padamu, Sis. Aku memang mencintaimu, aku memang membutuhkanmu, tapi
sabar ya Sis, mungkin waktunya belum cukup.
“ Bang Adri.... “
Siska mengejutkanku, “ Bang Adri melamun ?”
“ Nggak “ spontan aku menjawab. Aku terkejut.
Kupandangi gadis manis di depanku
ini dalam – dalam hingga ia tersipu
malu.
“ Sis...” kataku” Aku sayang padamu. Aku membutuhkanmu
dalam banyak hal. Kaulah yang dapat melunakkan hatiku Sis...?”
“ Makasih Bang Adri, setelah ini perasaan Sis jadi tenang.” Siska
meraih tanganku dan meletakkannya di pipinya kuat – kuat seperti ia tak akan
melepaskannya.
Hari- hari kujalani bersama Siska dengan penuh ceria dan
canda. Siska memang type gadis ceria dan ramah. Aku hampir melupakan Yuni
dengan kehadiran gadis manis ini.
Walaupun hubungan asmaraku
dengan Siska berjalan dengan baik, namun sekalipun aku belum pernah menciumnya.
Bukan karena aku tidak kepingin atau bernafsu, bukan. Aku lebih menjaga
kualitas hubungan ketimbang hal-hal yang berbau nafsu hingga pada suatu kali
Siska bertanya masalah itu. Ketika pada suatu malam kami duduk di taman
menikmati keindahan bulan purnama.
“ Bang... “ Siska memulai pembicaraan sambil merebahkan
kepalanya ke bahuku “ Sis heran dari mulai kita hubungan, bang Adri kok nggak
pernah mencoba mencium Sis ? “ dia menyembunyikan mukanya kebahuku, malu.
Kuraba wajahnya dengan lembut dengan telapak tanganku dan
kubisikkan padanya, “ Sis, Abang lebih menghargai hubungan batin antara kita,
dan bukan hubungan fisik “
Siska diam, dia masih menyembunyikan wajahnya di bahuku,
seakan ia ingin terus begitu. Angin malam berhembus sepoi menyibakkan rambut
panjang Siska, dan bulan di atas kami seakan tersenyum. Kutarik nafas dalam dan
kuteguk minuman yang baru kupesan dari pedagang keliling. Aku dan Siska
membiarkan dinginnya malam menjamah tubuh kami, menambah kemesraan. Sesaat
kuraih tangan Siska dan keremas lembut, seperti lembutnya sinar bulan yang
menerpa kami,
“ Bang Adri …. Seminggu lagikan liburan semester.
Rencananya Sis mau pulang melihat Ibu “ Siska mengangkat wajahnya dari bahuku.
“ Bagus “
“ Hmn, maksud Sis kalau Abang ada waktu Sis ingin Abang
ikut mengantarkan Sis dan sekaligus mengenalkannya pada Ibu.”
Aku diam sejenak, Siska benar-benar serius tentang
hubungan kami sehingga ia mau mengajakku ke rumah orang tuanya. Aku ragu, tapi
kupikir-pikir juga jika aku begini terus tidak baik untuk masa depanku. Aku
memang harus memutuskan dan aku harus berani. Yuni adalah masa laluku, dan
Siska kurasakan seperti penjelmaan Yuni. Kemiripan wajah serta tingkah lakunya
sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menenangkan perasaanku. Setelah
kupikir-pikir sejenak, maka ku putuskan mengikuti ajakan Siska, juga sekalian
aku akan menjenguk orang tuaku yang sudah agak lama juga aku tidak ke sana.
“ Sis, okelah, nanti abang ikut mengantarmu pulang. “
Dengan bergandengan tangan kami pulang berjalan menuju
mobil untuk segera pulang.
--00—
Tiket pesawat terbang sudah kupesan untuk dua orang, dan
pada hari yang ditentukan, aku dan Siska terbang ke kota dimana ibunya tinggal
yang kebetulan juga di kota itu juga orang tuaku tinggal. Kami banyak bercerita
di dalam pesawat hingga akhirnya pesawat mendarat di kota tujuannya. Dengan
mengendarai taxi kami langsung menuju ke rumah orang tuanya.
Rumah Ibu Siska tidak termasuk rumah yang mewah dan juga
bukan rumah sederhana. Rumah itu kelihatan dari luar dibuat dengan perencanaan
yang matang dengan
konsep minimalis. Sungguh
aku kagum dengan nilai seni Ibu Siska ini. Siska mengajakku masuk ke dalam
setelah tukang kebunnya membukakan pintu.
“ Masuk Bang Adri, jangan sungkan”
Aku mengangguk
dan mengikuti Siska. Siska meraih tanganku dan menariknya. Di dalam ruang tamu
ini kosong, tak kelihatan Ibu Siska.
“ Maaf ya Bang, Ibu mungkin masih di dalam kamar. Biar
Sis apanggil dahulu, karena memang Sis nggak bilang kalau pulang mengajak Abang
singgah di sini.”
“ Sis, Ibumu kerja dimana ? “ baru kali ini aku bertanya,
karena aku tak menyangka bahwa Ibu Siska seorang janda bisa menata rumah
seindah ini.
“ Ibu Interior Designer di perusahaan Swasta.”
“Pantas” gumanku
“ Ditinggal sebentar ya Bang? “
Siska masuk dengan memanggil Ibunya. Aku memperhatikan
ruang tamu ini, ada beberapa lukisan pemandangan terpampang di dinding, dan
tidak ada terpajang satupun foto keluarga Siska. Tak lama kudengar langkah kaki
mendekat dan muncul di ruang itu. Ibu Siska sendirian. Aku menoleh, kutatap
sebentar Ibu Siska, dan dia juga menatapku. Dalam. Kami saling tatap agak lama
dan aku tidak asing dengan wajah itu, ya, wajah itu wajah yang tak pernah lepas
dari pemikiranku. Tiba – tiba aku merasa dunia ini berputar kencang, dan
sepertinya ada badai yang datang tiba-tiba menerpaku hingga aku merasa
terpelanting. Ibu Siska masih terpaku berdiri ditempat semula dan tiba-tiba ia
berguman, lirih suaranya, “ Adrian...........”
“ Yuni …............” kata-kata itu lirih terdengar dari
bibirku.Ya Allah, permainan apa ini, aku tak mengerti. Ibu Siska adalah Yuni,
orang yang selama ini menghiasi relung hatiku. Yuni terlihat lemas dan
sepertinya tak sanggup berdiri. Aku sigap bangkit dan menghampirinya dan
memeluknya untuk menahan supaya ia jangan sampai jatuh. Kupapah dia duduk di
kursi.
“ Adrian …. Benar
Adrian kan ? ' tanyanya lemah dan ada air mengalir di matanya.
Aku menganggguk pelan, “ Yun ….......” sapaku “ tidak
salahkan ? “
Yuni menangis, ditatapnya wajahku dalam-dalam seperti tak
percaya bahwa kekasih anaknya yang duduk di depannya ini adalah orang yang selama ini dirindukan, dimimpikan
dan dikhayalkannya.
“ Yun, maaf ya ….. aku dan Siska …..... “ aku coba
mencairkan kebuntuan
“ Kau nggak salah, Dri, dan jangan salahkan dirimu . Yang
salah aku, andainya waktu itu tak terjadi…… .”
“ Kau sudah cukup berusaha maksimal, Yun “ cepat aku
memotong pembicaraannya.
“ Tapi Dri....” Yuni merasa belum cukup mengutarakan
perasaannya
“ Sudah Yun,’timpalku, “ masa lalu tak usah diingat lagi,
yang penting sekarang bagaimana kehidupan kita
kedepannya “
“ Jadi, apa rencanamu dengan Siska… ? “ tanya Yuni dengan
perasaan pasrah
Aku menggeleng, “ Belum ada Yun, aku dan Siska belum ada
rencana apa-apa, dan biar kau tahu Yun, dalam hatiku tak ada orang yang bisa
menggantikanmu. “
“ Dri, Siska banyak cerita tentangmu, dan kulihat terlalu
banyak harapannya darimu. Kalau kau
bilang seperti itu, kau berarti menghianati Siska. Kau tahukan Dri, Siska itu
anakku
satu-satunya. Dia bahagian
hidupku yang tak bisa dipisahkan. Jika kau menghianatinya, itu artinya kau
menghianatiku juga. “
“ Tenang Yun, “ aku menarik nafas panjang “ aku takkan
menghianati siap-siapa. Aku tahu perasaan Siska, dan aku tahu
harapan-harapannya, tapi …....... aku tak bisa menghianati perasaanku. Jikapun
ia kuterima sekarang aku sangsi dia menjadi orang kedua
dalam perasaanku. Aku
sayang padanya hingga aku tak mau ia disakiti oleh siapapun termasuk diriku
sendiri. Dia masih muda dan perjalanan hidupnya masih terlalu jauh. Jika
kupaksakan menerimanya aku takut, Yun, aku takut nanti akan menyakiti hatinya.”
“ Dia terlalu memujamu., Dri “
“ Aku tahu itu, aku sadar. Yun …. sekali lagi kukatakan,
kau tak bisa digantikan siapapun. Ketahuilah Yun, aku tahu Siska sebenarnya
merindukan seorang sosok ayah yang tak pernah ia rasakan selama dia hidup. “
' Dri, jangan sakiti hati anakku. “
Aku dan Yuni menghentikan
pembicaraan ketika Siska muncul. Seperti biasa dia ceria.
“ Maaf Bang Adri, agak lama Sis ya..... ng …... udah
kenal Ibu kan ? Ini Bu Y...u...n...i..” Siska dengan manjanya coba
mengenalkanku pada Ibunya sambil ia duduk disamping Yuni
dan merebahkan badannya ke
sisi Ibunya, “ Bu ini Bang Adri yang sering Sis ceritakan dalam surat. Gimana
Bu ? Bang Adri ini orangnya baiiiiiik sekali. “
“ Jangan terlalu memuji, Sis “ kataku malu. “ Saya
biasa-biasa saja kok.”
Pembicaraan berlanjut, aku dan Yuni berusaha menyembunyikan hubungan kami yang
lama, dan kulihat Siska dengan keluguannya tidak menangkap
keganjilan-keganjilan yang kuperlihatkan seperti aku tak kuasa memandang Yuni
dalam-dalam, dan ia juga membalasnya untuk mengurangi rasa rindu yang begitu
dalam. Oh Sis, maafkan aku, Ibumu inilah yang telah menorehkan cinta dihatiku hingga
aku tak pernah menyisakan sedikitpun ruang hatiku untuk perempuan lain.
Setengah jam berlalu aku pamitan pulang menemui orang tuaku yang tinggal dalam
kota itu juga.
Pertemuan dengan Yuni tadi membuat galau perasaanku. Aku
sebenarnya tak mampu menghadapi parasaan ini, kupaksakan juga menekan
perasaanku, tapi wajah mungil itu,
wajah Yuni yang tak
termakan usia itu terus bermain dalam pandanganku. Aku tak tahan hingga Yuni ku
telpon. Kami bicara mengutarakan isi hati kami, dan aku tak peduli dengan masa
lalu Yuni. Aku tak akan mengawini wanita selain Yuni, segalanya adalah Yuni,
Yuni, dan Yuni. Tapi ….. bagaimana Siska ? Gadis ayu baru tamat SMA itu ? Sis
….. andainya ibumu bukan Yuni. Andainya Sis …. Yuni tak kujumpa lagi, cuma kau
gadis yang bisa hampir menyisihkan perasaanku pada Yuni. Tapi itulah takdir,
ternyata Tuhan mungkin menginginkanku kembali ke Yuni, hingga aku memutuskan
dan coba bicara baik-baik ke Siska pada suatu kesempatan ketika ia kuajak makan
malam di sebuah Cafe.
“ Maaf ya Bang Adri, Abang kok nggak telpon – telpon Sis
dari kemarin ?” Tanya Siska, “ Nggak
rindu sama Sis ya ….. ? “ Siska memulai pembicaraan dengan keluguannya. Nampak
ia tak punya kecurigaan apa – apa kepadaku padahal seharian kemarin aku tak
sekalipun meneleponnya, dan ini sangat bertentangan dengan waktu-waktu
sebelumnya yang tak seharipun kulewatkan tanpa meneleponnya.
“ Jangan perasaan dulu Sis, pastilah rindu. “ jawabku
enteng
“ Jadi kok nggak nelpon ? “ tanyanya lagi dengan nada
manja, “Sibuk nii yeee”
“ Udahlah Sis. “ aku menarik nafas panjang, diam sejenak
dan dengan sangat berat aku mencoba berbicara “ Sis boleh abang berterus terang
? “
“ Mau melamar Sis ya ?” spontan ia memotong kata-kataku,
“ Bicara sama Ibu “ ketus katanya
Ah, aku
terkesima dibuat pernyataannya. Ya Tuhan,
sudah sejauh itu Siska berfikiran. Aku jadi serba salah, kupandangi
Siska dalam-dalam. Ada rasa kasihanku padanya, ada rasa berdosaku padanya, ada
rasa galau dihatiku. Aku serba salah dibuatnya, namun aku harus
berfikir jernih, bagaimanapun keputusan harus cepat
diambil daripada berlarut-larut yang efeknya bakal lebih parah lagi. Aku
menekan perasaanku dan dengan lembut aku mulai mengutarakan maksudku sambil meremas jemarinya.
“ Sis, sebelumnya Abang minta maaf padamu. Abang minta ……. hubungan kita sampai di sini saja ya ? “
“ Sis, sebelumnya Abang minta maaf padamu. Abang minta ……. hubungan kita sampai di sini saja ya ? “
Siska melonjak. Terkejut. Badannya bergetar. Ditatapnya
aku seakan tak percaya. Hilang keluguannya, hilang keceriaannya. Perlahan kulihat
air mulai menggenang di kelopak matanya yang mungil, tak lama butiran air
bening jatuh ke pipinya yang putih. Aku tak tahan dengan pemandangan ini, mataku mulai perih, kurasakan genangan air
mulai dengan perlahan turun ke pipiku tapi langsung ku usap.
“ Benarkah Bang ….....?. Atau aku yang salah dengar “
lirih suara Siska
Aku coba tegar, dan mengangguk, “ Sis nggak salah dengar.
Itu benar. “ kataku tegas.
“ Tapi, tapi kenapa ? “ ia terbata “ Ada orang lain, Bang
? “ Siska melepaskan tangannya dari genggamanku. Ia terisak
“ Bukan masalah ada orang lain, Sis, ini masalah Abang
pribadi. Sis kan tahu orang seumur Abang ini sampai sekarang belum menikah ? Itu karena ada hati
orang lain di hati ini.”
Perlahan dengan detail kuceritakan pengalaman pahit
diriku dari bertahun – tahun yang lalu. Kulihat Siska mendengar dengan tenang.
Tak terasa juga air mataku juga jatuh satu-satu. Aku coba memberi pengertian
Siska agar dia bisa memahami perasaanku.
Memang aku juga mengerti
tidak segampang itu meluluhkan perasaannya, tapi apapun itu harus kuputuskan
sekarang, dan mau tak mau Siska harus memakluminya. Nampak dia mulai tegar, dan
ketika kuremas jemarinya dia membalas seperti memberikan kekuatan padaku.
“ Itulah Sis perjalanan hidup Abang sebenarnya.
Percayalah Sis, Abang sayang padamu karena itulah Abang tidak mau menyakitimu.
Jikapun Sis tidak merelakannya itu harus segera kita putuskan. Kau masih muda,
Sis, perjalananmu masih terlalu jauh,
dan nanti Abang yakin ada laki-laki yang baik untukmu.”
Air mata masih belum berhenti keluar dari mata Siska, dan
kuambil sapu tanganku dan menghapus genangan airmata di wajahnya.
“ Bang ….... maaf ya, jika boleh Sis tahu, siapa wanita
yang beruntung itu ? “ Siska menyelidiki.
“ Wanita itu tidak jauh dari kehidupan kita “ kataku
“ Kita ? “ Siska heran,
“ Hmn....... Sis, Wanita yang Abang ceritakan tadi adalah
Yuni. Ibumu. “
Siska terhenyak, dan sepertinya ia tak menduga sama
sekali bahwa laki-laki di sampingnya ini adalah laki-laki yang selalu dirindui
ibunya, laki-laki yang membuat ibunya tak mau kawin lagi setelah sepeninggal ayahnya.
Siska tak habis mengerti apa yang harus ia lakukan. Ia terlalu mencintaiku dan
terlalu menaruh harapan masa depannya padaku.
Orang yang paling dicintainya di dunia ini
cuma dua orang yakni Ibunya dan Aku. Siska kulihat menjadi serba salah. Ia menghapus
sisa air matanya, dan ia menjatuhkan kepalanya
ke bahuku, dan lirih
suaranya, “ Bang,......... jika Abang masih mencintai ibu, Sis cuma minta Sis
nggak mau ibu patah hati lagi.”
“ Ibumu bahagian hidupku Sis, tak usah kawatir Abang
pasti menjaga dirinya dan juga perasaannya. “
“ Sis lega, Bang. Tapi terus terang, Sis belum bisa
merubah hati ini. “
“ Sabarlah Sis, jika ada harapan, akan selalu ada jalan.”
Perbincanganku
dengan siska tak terasa lamanya hingga akhirnya kami sadar hari sudah pukul dua
belas malam. Kami beranjak dari tempat itu dan pulang.
Kudengar suara orang ribut-ribut di luar kamar ini yang
membuat aku tersentak bangun, rupanya orang tuaku sudah bangun. Kulihat jam
duduk desamping tempat tidurku, sudah pukul lima pagi. Cepat aku bangun dan
melakukan kewajibanku sebagai orang yang beragama.
Matahari menunjukkan wajahnya, pagi beranjak terang, hari
baru mulai. Kedengar ring telepon genggamku berbunyi, dan kuraih. Dari Siska.
“ Maaf Bang Adri, mungkin ini mengganggu waktu istrahatnya
“ kudengar suara Siska, tak lagi lugu, dan kudengar seperti bukan Siska yang
dulu, “ Nanti siang Sis harus pergi, dan Sis harap Bang Adri maklum. Tadi malam
Sis banyak cerita sama ibu hingga pagi, dan Sis harap Bang Adri hari ini mau
datang ke rumah menjumpai Ibu. Ketahuilah Bang, pesaan Ibu terhadap bang Adri
sama seperti perasaan bang Adri, untuk itulah Sis mohon kepada Abang agar
menjaga Ibu dan tidak menyakiti hati Ibu. Sispun berdoa agar perasaan Sis
terhadap Bang Adri berubah seiring waktu yang berjalan. Selamat tinggal ya
Bang……..” Sis langsung mematikan HPnya dan tak menunggu jawabanku lagi.
Aku bersandar ke didinding menerawang jauh ke depan. Hari
ini sudah putus semua. Aku lega. Sis berjiwa besar.
Panjang lebar aku berbicara dengan Yuni, dan kami telah
mengangbil keputusan untuk bersama. Bulan depan aku akan melamar Yuni untuk
menjadi istriku, dan Yuni setuju untuk itu, dan Siska memang tidak memutuskan
untuk hadir pada hari pernikahanku dengan ibunya, aku maklum dan semoga waktu
merubah semuanya, toh Siska akan menjadi anakku kelak. Terima kasih Tuhan, Kau
memberikan jalan keluar bagi persoalan pribadiku.
(mei ’11)
==============================000====================================





